Sabtu, 05 November 2016

IDENTIFIKASI ALKOHOL



LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

Description: H:\ \UNIB.jpg
DISUSUN OLEH:

Nama                           :  Selamed Riadi
NPM                           :  E1G015041
Prodi                           :  Teknologi Industri Pertanian
Kelompok                   :  1 ( Satu )
Hari/Jam                      :  Selasa/12:00-13:40 WIB
Tanggal                       : 22 Maret 2016
Co-Ass                        : 1. M. Abdul Ratam Ikhsan
                                      2. Selestia Ningsih Pane
                                      3. Veronicawati Sihotang
Dosen                          : 1. Drs.Syafnil.M.Si
                                      2. Dra.Devi Silsia, M.Si
Objek Praktikum         : IDENTIFIKASI ALKOHOL


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2016

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Alkohol merupakan senyawa seperti air yang satu hidrogennya diganti oleh rantai atau cincin hidrokarbon. Sifat fisis alkohol, alkohol mempunyai titik didih yang tinggi dibandingkan alkana-alkana yang jumlah atom C nya sama. Hal ini disebabkan antara molekul alkohol membentuk ikatan hidrogen. Rumus umum alkohol R – OH, dengan R adalah suatu alkil baik alifatis maupun siklik. Dalam alkohol, semakin banyak cabang semakin rendah titik didihnya. Sedangkan dalam air, metanol, etanol, propanol mudah larut dan hanya butanol yang sedikit larut. Alkohol dapat berupa cairan encer dan mudah bercampur dengan air dalam segala perbandingan (Brady, 1999).
Berdasarkan jenisnya, alkohol ditentukan oleh posisi atau letak gugus OH pada rantai karbon utama karbon. Ada tiga jenis alkohol antara lain alkohol primer, alkohol sekunder dan alkohol tersier. Alkohol primer yaitu alkohol yang gugus –OH nya terletak pada C primer yang terikat langsung pada satu atom karbon yang lain contohnya : CH3CH2CH2OH (C3H7O). Alkohol sekunder yaitu alkohol yang gugus -OH nya terletak pada atom C sekunder yang terikat pada dua atom C yang lain. Alkohol tersier adalah alkohol yang gugus –OH nya terletak pada atom C tersier yang terikat langsung pada tiga atom C yang lain (Fessenden, 1997).
Reaksi Identifikasi Alkohol Primer, Sekunder, dan Tersier Pada alcohol primer, sekunder, dan tersier memberikan reaksi yang berbeda terhadap oksidator K2CrO7, KMnO4, dan O2. Dengan bantuan katalis, atom O dari oksidator akan menyerang atom H yang terikat ke atom C yang mengandung gugus - OH (atom C karbinol). Berikut reaksi oksidasi pada masing-masing alcohol.
1.      Reaksi oksidasi alcohol primer akan menghasilkan alkanal (aldehida), jika dibiarkan beberapa lama, maka proses oksidasi akan berlanjut menghasilkan suatu asam karboksilat. Jika kita ingin memperoleh aldehida dari proses oksidasi ini, maka secepatnya dilakukan destilasi untuk menghindari proses oksidasi berlanjut.
2.      Reaksi oksidasi alcohol sekunder akan menghasilkan suatu keton (alkanon).
3.      Pada alcohol tersier, tidak terjadi proses oksidasi. Hal ini disebabkan pada alcohol tersier, tidak terdapat atom H yang terikat pada atom C karbinol ( Sabirin, 1992).
Alkohol alifatik merupakan cairan yang sifatnya sangat dipengaruhi oleh ikatan hidrogen. Dengan bertambah panjangnya rantai, pengaruh gugus hidroksil yang polar terhadap sifat molekul menurun. Sifat molekul yang seperti air berkurang, sebaliknya sifatnya lebih seperti hidrokarbon. Akibatnya alkohol dengan bobot molekul rendah cenderung larut dalam air, sedangkan alkohol berbobot molekul tinggi tidak demikian. Alkohol mendidih pada temperatur yang cukup tinggi. Sebagai suatu kelompok senyawa, fenol memiliki titik didih dan kelarutan yang sangat bervariasi, tergantung pada sifat subtituen yang menempel pada cincin benzena (Petrucci, 1987).
Reaksi-reaksi yang terjadi dalm alkohol antara lain reaksi substitusi, reaksi eliminasi, reaksi oksidasi dan esterifikasi. Dalam suatu alkohol, semakin panjang rantai hidrokarbon maka semakin rendah kelarutannya. Bahkan jika cukup panjang sifat hidrofob ini mengalahkan sifat hidrofil dari gugus hidroksil. Banyaknya gugus hidroksil dapat memperbesar kelarutan dalam air (Hart, 1990).
Suatu alkohol primer dapat dioksidasi menjadi aldehid atau asam karboksilat. Alkohol sekunder dapat dioksidasi menjadi keton saja. Sedangkan pada alkohol tersier menolak oksidasi dengan larutan basa, dalam larutan asam, alkohol mengalami dehidrsi menghasilkan alkena yang kemudian dioksidasi (mardzuki,1990).


BAB III
METODOLOGI

3.1  Alat dan Bahan
3.1.1 Alat yang digunakan :                            3.1.2 Bahan yang digunakan:
1.      Botol semprot                                                 1.  Etanol
2.      Corong                                                            2. Propanol
3.      Erlenmeyer 100 ml dan 250 ml                       3. Tersier butanol
4.      Gelas piala 100 ml dan 500 ml                        4. H2SO4
5.      Gelas ukur 100 ml dan 25 ml                          5. KMnO4
6.      Penangas air                                                    6. CH3COOH glasial
7.      Penjepit, rak, dan tabung reaksi                      7. K2Cr2O7
8.      Pipet tetes                                                       8. FeCl3
9.      Pipet volume                                                   9. Aquades
10.  Termometer                                                     10. NaOH

3.2  Cara Kerja
1.      Identifikasi alkohol (Reaksi Oksidasi)
CARA I :
·         Menyiapkan 3 buah tabung reaksi, menambahkan 3 ml asam asetat kedalam masing-masing tabung reaksi.
·         Selanjutnya menambahkan pada masing-masing tabung :
a)      Tabung reaksi I           : 1 tetes etanol
b)      Tabung reaksi II          : 1 tetes 2-propanol
c)      Tabung reaksi III        : 1 tetes tersier-butanol
·         Menambahkan pada larutan diatas dengan larutan KMnO4 0,1 M tetes demi tetes sampai terbentuk warna merah muda.
·         Selanjutnya menambahkan 1 tetes H2SO4 pekat dan 1 tetes KMnO4 0,1 M, ingat H2SO4 dapat merusan kulit.
·         Memperhatikan apa yang terjadi !
1.      Jika tidak ada perubahan warna dari merah muda, berarti larutan tersebut alkohol primer
2.      Jika penambahan H2SO4 dan KMnO4 menyebabkan larutan menjadi tidak berwana maka sampel tersebut adalah alkohol sekunder.
3.      Jika sampel tidak menghasilkan warna merah muda, dengan penambahan KMnO4, maka sampel tersebut adalah alkohol tersier.
CARA II :
1.      Menyiapkan 3 buah tabung reaksi, menambahkan kedalam tabung reaksi masing-masing 2 ml K2Cr2O7 0,1 M.
2.      Menambahkan perlahan-lahan ( lewat dinding tabung ) 1 ml H2SO4 pekat, ingat H2SO4 pekat dapat merusak kulit.
3.      Mengaduk sampai homogen dan dinginkan ( jika tabung panas )
4.      Perlahan-lahan menambahkan ( lewat dinding tabung ) :
a.       Tabung I                : menambahkan 2 ml etanol
b.      Tabung II              : menambahkan 2 ml 2-propanol
c.       Tabung III             : menambahkan 2 ml tersier-butanol
5.      Memperhatikan perubahan warna yang terjadi, juga membandingkan bau yang timbul dengan bau alkohol itu sendiri.

2.      Reaksi alkohol dengan FeCl3.
1.      Menyiapkan 2 tabung reaksi :
a.       Tabung I                : menambahkan 2 ml larutan fenol
b.      Tabung II              : menambahkan 2 ml 2-propanol
2.      Menambahkan pada tabung reaksi masing-masing 5 tetes FeCl3.
3.      Mengamati hasilnya.